Bapak yang Bangga pada Anaknya


Selamat beraktivitas untuk Anda semua
Semoga hari ini adalah hari yang menyenangkan dan membahagiakan Bagi Anda

Dalam setiap kehidupan berkeluarga, pasti akan memiliki hubungan yang harmonis satu sama lain. Meskipun trkadang juga menimbulkan masalah, tapi selayaknya masalah itu bukanlah menjadi api membara yang siap membakar hati kita sehingga kita tega menyakiti keluarga kita sendiri. Oleh karena itu, dalam kehidupan berkeluarga diperlukan adanya rasa saling memahami, saling menyayangi dan juga saling membantu satu sama lain agar keharmonisan di dalam keluarga itu bisa terwujud.

Pada kesempatan kali ini saya akan memberika sedikit cerita tentang keluarga. Dimana ada seorang Bapak yang memiliki kebanggaan yang sangat besar kepada anaknya. Bukan karena harta dan juga bukan karena derajat yang tinggi dari anak seorang bapak tersebut. Mari menyimak kisah di bawah ini tentang Bapak yang Bangga pada Anaknya.

Pada suatu ketika di suatu bandara ada seorang kakek tua yang sendirian. Dia membawa tas kecil yang ada di punggungnya. Dia menggunakan baju bermotif garis yang sederhana, baju yang sangat berbeda dengan pengunjung lain yang ada di bandara Juanda Surabaya kala itu. 
Setelah beberapa menit tidak ada yang menyapa kakek tersebut, ada seseorang eksekutif muda yang bertanya kepada kakek tersebut sambil menunggu jadwal penerbangan pesawatnya.
"Selamat pagi Pak, bapak hari ini akan terbang kemana", dengan wajah dan kalimat yang santun eksekutif muda itu menyapa kakek tua tersebut.
"Selamat pagi juga mas, saya mau ke Jakarta mas, ke rumah anak saya yang ketiga yang membelikan tiket pesawat ini, kenapa mas?", jawab kakek tersebut sederhana.
 "Oh, tidak ada apa apa pak. Kalau boleh tahu anak bapak yang ketiga bekerja sebagai apa pak di Jakarta?"
"Anak saya yang ketiga bekerja sebagai manager perusahaan ternama di Jakarta mas, sudah lama saya tidak ke sana untuk menjenguk anak saya, makanya saya dibelikan tiket untuk ke Jakarta." jawab kakek tua itu
"Berarti anak bapak adalah orang yang kaya raya di Jakarta pak?"
"Benar mas, anak saya yang ketiga memang kaya raya."
"Setelah dari Jakarta, bapak akan langsung ke Surabaya lagi atau bagaimana Pak?""
"Setelah dari Jakarta, saya akan langsung menuju  Jogjakarta mas, di rumah anak saya yang kedua"
"Oh, begitu ya. Kalau boleh tahu, anak bapak yang kedua ini kerja apa pak di Jogjakarta? Saya juga pernah tinggal di Jogjakarta, barangkali saya mengenal anak Bapak"
"Anak saya yang kedua adalah staf pengajar di salah satu universitas negeri ternama di Jogjakarta mas. Sudah sekitar 15 tahun dia bekerja di sana dan bertempat tinggal di sana."
"Wah, anak kedua bapak juga sangat sukses seperti anak bapak yang ketiga. Rasanya pasti bahagia sekali apabila melihat anak sudah sukses. Setelah di Jogjakarta, bapak kemudian kemana Pak?"
"Iya mas, saya bahagia karena anak saya sudah sukses. Setelah satu minggu di Jogjakarta, saya mau ke Jember mas untuk menengok anak pertama saya yang sedang sakit keras."
"Pasti anak bapak yang pertama adalah seorang pengusaha ternama juga kan Pak, yang biasanya terlalu semangat bekerja di kantor sehingga tubuh menjadi mudah sakit?"
"Wah, mas ini bisa saja. Anak saya yang pertama hanya seorang petani di desa mas. Anak saya yang pertama bukanlah pengusaha yang sukses seperti yang sampeyan kira."
Anak muda itu kemudian tertegun dan merasa malu mendengar jawaban kakek yang seperti itu. Dia takut bahwa perkataannya itu menyinggung perasaan kakek.
"Waduh pak, saya minta maaf sudah menebak yang tidak tidak tentang anak bapak yang pertama"
"Tidak apa apa mas, sudah biasa kok, Banyak orang yang berkata begitu tentang anak saya yang pertama. Kenapa dia tidak bisa sukses seperti adek adeknya. Tetapi saya memiliki pemikiran yang lain mas."
"Pemikiran lain bagaimana Pak? Apakah saya boleh tahu?
"Orang lain itu hanya memandang sebelah mata kepada anak saya yang pertama. Padahal anak yang paling saya banggakan adalah anak saya yang pertama yang hidup sebagai petani."
"Kenapa kok bisa begitu pak? Apakah menurut bapak pekerjaan sebagai petani itu lebih bisa dibanggakan daripada pekerjaan anak bapak yang lainnya"
Si Bapak hanya tersenyum kemudian berkata
"Saya bangga bukan karena pekerjaannya mas. Tapi saya bangga karena dengan jerih payahnya sebagai petani. Anak bapak yang kedua dan ketiga disekolahkan oleh anak saya yang pertama dari SMP sampai kuliah sehingga mereka menjadi sukses seperti saat ini. Saya juga bangga karena dengan jerih payahnya tersebut, anak saya yang pertama tidak mengeluh. Bahkan dalam kondisi sakit keras pun dia tidak mau merepotkan saudara saudaranya untuk biaya pengobatan."
Si eksekutif muda itu pun tertegun mendengar jawaban dari sang kakek. Setelah itu, si kakek tua itu pun mengucapkan salam untuk mengakhiri perjumpaan itu karena pesawatnya akan segera diberangkatkan. Hal itu juga di sambut dengan senyuman dan ucapan terima kasih dari eksekutif muda tersebut. Banyak pelajaran yang diambil dari perjumpaan tersebut.

Hikmah yang bisa kita ambil dari cerita di atas adalah bahwa sebagai manusia kita tidak harus memandang sebelah mata atas pekerjaan seseorang. Belum tentu pekerjaan PNS lebih bermakna apabila dibandingkan sebagai petani. Selain itu, sebagai seorang tua, janganlah memilah milah anak Anda berdasarkan pekerjaan mereka, selama pekerjaan itu baik, Anda harus selalu berupaya mensupport dan tidak pilih kasih dalam memperlakukan anak Anda.

Dari cerita di atas, hal yang bisa direnungkan adalah ketika sebuah pekerjaan yang sederhana bisa memberikan kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan yang luar biasa. Seorang petani bisa menyekolahkan adek adeknya sehingga menjadi pengusaha dan staf pengajar universitas. Bahkan dalam kehidupan nyata pun banya kita jumpai tukang becak yang bisa menyekolahkan anaknya sampai S2, seorang anak penjual koran yang mampu lulus dari S1, dan banyak lagi yang lainnya.

Semoga cerita ini bisa menjadi pengingat bagi kita semua agar lebih mensykukuri rejeki berupa anak sehingga kita bisa memperlakukan mereka dengan baik.

Banyak orang bisa menyebut mantan istri atau mantan suami
Tapi tidak pernah saya mendengar orang menyebut Mantan Anak 
Hal ini menunjukkan Bahwa Anak tidak bisa terpisahkan dari orang tua



Terima Kasih

Artikel Catatan si Boll Lainnya :

33 komentar:

  1. Inspiratif kisahnya Mas. Kebanggaan memang tidak seharusnya didasarkan besaran rupiah ya. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. memang bukan dari rupiah mas rasa bangga itu ada

      meskipun bernominal kecil, bisa jadi akan memberikan bangga yang begitu besar

      Delete
  2. terharu bacanya... sampe gk tau mau ngomong apa lg..

    ReplyDelete
    Replies
    1. mbak enny selalu begitu,

      maaf ya mbak selalu membuat mbak enny terharu, semoga tulisan ini bisa jadi pengingat bagi kita semua

      Delete
  3. ini untuk kontes 4th elfrisi itu ya :d

    ReplyDelete
    Replies
    1. bukan mbak, ini bukan untuk kontes

      artikel yang untuk kontes masih dalam tahap berfikir, bingung milih topik yang mana ^^

      Delete
  4. Jadi ingat Almarhum Bapak saya, hehe,,,
    Insiratif sekali...

    Waduh uda dipasang link saya, trims mas,,,, segera saya pasang juga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha,,, tadinya mau komen pake akun ini, :D

      Delete
    2. sudah saya pasang mas ^^

      salam kenal ya....

      semoga almarhum bapak sampeyan juga bisa menjadi inspirasi kehidupan bli gandhi

      Delete
  5. Salam Takzim
    Justru seorang kakak yang pertama yang telah membiayai hidup ke dua adiknya yang harus dibanggakan, bukan para adik yang sukses.
    kalau saya sih bangga dengan semua anak saya tak pandang pekerjaannya mas, yang penting bisa menjaga harkat dan martabat keluarga
    Salam sukses dan bersahaja dari batavusqu

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya sepakat dengan pendapat panjenengan, kita tidak boleh pilah pilih untuk menyayangi anak kita, yang penting mereka bisa menjaga nama baik keluarga

      terima kasih kunjungannya mas ^^

      Delete
  6. pasti si bapak akan lebih bangga lagi kalau ketiga anaknya terus hidup rukun dan saling sayang menyayangi

    ReplyDelete
    Replies
    1. pastinya begitu mbak Monda ^^

      mbak monda kok jarang bikin artikel di rumah yang baru, saya tunggu lho mbak coretan barunya ^^

      Delete
  7. kebanyakan orang menilai keberhasilannya saja, tanpa melihat prosesnya.
    kisah yang menginspirasi.
    Salam...

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih mas erwin....

      seperti pepatah dalam organisasi saya mas, "Yang penting berproses dulu, hasil urusan belakangan" ^^

      Delete
  8. Cerita yang mengharukan.

    Sukses selalu
    Salam
    Ejawantah's Blog

    ReplyDelete
  9. edan bisa bikin cerita haru gini mas boll,,,, thanks ya boll

    ReplyDelete
    Replies
    1. waduh, saya dibilang edan ^^

      saya bisa membuat gini karena saya juga seorang outbond trainer mas di Jember, jadi dari situ saya belajar sedikit tentang bagaimana memotivasi seseorang ^^

      Delete
  10. Subhanallah...
    Biasanya orang tua-lah yang paling mengenal anak2 mereka. Meskipun mereka sayang kepada semua anak2 mereka, namun cenderung ada seorang yang teristimewa :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. memang biasanya begitu mbak para orang tua, selalu ada yang istimewa, alhamdulillah saya bukan yang istimewa ^^

      Delete
  11. Hiks..hiks..jadi kangen sama Alm.kedua Bapakku..
    Terharuu..
    Ga bisa ngomong deh..

    ReplyDelete
    Replies
    1. waduh, jadi ngrasa bersalah, udah bikin teteh nangis

      semoga Alm. Bapak sampean selalu mendapatkan perlindungan oleh-Nya, amien...

      Delete
  12. kayaknya kebanyakan orang tua membanggakan anaknya
    jangankan yang berprestasi, anak ga jelas saja masih suka dibanggain
    padahal sebaliknya seringkali engga

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya begitulah mas rawins, namanya juga orang tua, pasti selalu membangga banggakan ananya di depan orang lain

      Delete
  13. ceritanya inspiratif mas Boll ... tfs

    ReplyDelete
  14. ini realita yang banyak terjadi...saat anak pertama rela mengorbankan masa depannya sendiri demi menyekolahkan adik-adiknya untuk meraih masa depan mereka...terimakasih sudah berbagi kisah inspiratif ini kawan :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. memang banyak mas yang begitu, tetapi yang penting sebagai anak pertama harus ikhlas dan tidak menganggap itu semua sebagai beban, melainkan sebagai anugerah dari Tuhan ^^

      Delete
  15. umumnya yg sering terlihat itu ttg kasih sayang seorang ibu kpd anaknya, sementara ayah lebih di gambarkan sibuk mencari nafkah.. Pdhl si Ayah pasti juga sayang sm anak2nya. Hanya saja Jarang cerita yang menggambarkan seorang ayah terang2an menunjukkan kasih sayang kepada anak2nya..

    Makanya sy suka lebih terharu kl ada crt ayah yg sayang ke anak.. Atau melihat langsung kedekatan seorang ayah kepada anak2nya.. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. jadi mulai sekarang, yang sudah menjadi seorang ayah kudu dekat dengan anaknya agar si anak bisa bilang bahwa "Ayah dan Ibu juga sayang sama saya"

      pasi senang bila memiliki seorang anak yang mengucapkan kata seperti itu

      Delete
  16. Cerita yang luar biasa nih ...
    Betul2 inspiratif :)
    Trims sudah berbagi :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama sama mas yayat, semoga bermanfaat

      Delete

Silahkan menuliskan komentar Anda tentang postingan di atas
Semoga tulisan di atas bermanfaat bagi Anda ^^

Note :
1. Komentar dengan Link Hidup akan di delete.
2. Komentar saya moderasi untuk menghindari komentar yang tidak pantas

Scroll to top